USIA BELIA
Melangkah
masuk, melirik sekitar dan duduk dibangku yang memanjang. Headseat terpasang
manis di telinga, pandangan menatap ke layar hp dan sesekali melirik ke layar
di depan mata, siaga jikalau nomer antrianku sudah di panggil. "Neng,
sendirian saja? Ngantriin ortu ya?" suara tanya itu sontak membuatku
melepas headseat dan menoleh "Oh tidak bu, saya memang mau berobat ke
dokter penyakit dalam".. Salah satu tantangan terberat di usia belia dan harus kontrol rutin bulanan ke dokter spesialis penyakit dalam adalah menghadapi pertanyaan seperti ini.
....
Diabetes
merupakan salah satu penyakit kronis. Tahukah kalian jika penyakit kronis tidak
lepas dari yang dinamakan kontrol rutin dengan dokter. Kontrol rutin tersebut
guna mengevaluasi pengobatan, managemen penyakit, dan berbagai cek
laboratorium. Kalau untuk diabetes sendiri cek lab yang dilakukan biasanya gula
darah puasa dan gula darah sewaktu, hba1c, lalu ada juga cek ureum
kreatinin.
Bagi
penderita diabetes yang baru di diagnosa dibutuhkan kontrol ketat dalam
memantau gula darah, dan perlu adanya pemantauan rutin oleh penderita dengan
mengecek gula darah secara mandiri. Contohnya sebelum mengkonsumsi makanan
berat penderita harus mengecek gula darahnya dan menyuntik insulin kemudian
makan, 30 menit kemudian di cek lagi gula darahnya. Minimal pengecekan dalam
sehari yaitu 3x. Jika gula darah normal selama pengecekan berarti dosis insulin
yang digunakan sudah tepat.
Seminggu
setelah keluar dari perawatan di RS sekitar tanggal 18 Desember 2017aku
konsul dengan dokter namun gagal dikarenakan kelalaianku sehingga ketinggalan
antrian dan praktek dokter sudah tutup jikalau harus mengulang antrian dari
awal. Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk kontrol setelah pulang dari
liburan semester pada saat itu. Kontrol pertama berjalan mulus meski harus
mengikuti banyak persyaratan dan menunggu cukup lama.
Aku
banyak bertemu dengan pasien-pasien lain yang dokternya sama denganku. Muncul
banyak pertanyaan awalnya, “siapa yang sakit dek? Ngantriin ortu ya?” Mereka
tampak heran aku tampak sehat-sehat dan masih muda namun sudah ke dokter penyakit
dalam. Aku menjelaskan mengenai penyakitku dan beber
Umurku
saat itu masih 18 tahun dan aku harus mulai terbiasa bolak-balik RS demi
kontrol dokter dan menghadapi berbagai pertanyaan "siapa yang sakit
dek?" dari pasien-pasien yang berobat jalan juga. Bukan dokter umum yang
kuhadapi tetapi SPESIALIS PENYAKIT DALAM.
Setiap
kontrol aku mulai terbiasa dengan pertanyaan seperti itu, dan aku menikmatinya.
Di usia belia sepertiku memang sangat kasihan sekali harus berjuang dengan
penyakit seperti ini, namun aku melihat semangat beberapa dari mereka melewati
ini semua, beberapa dari mereka antusias untuk menceritakan perjuangan mereka
dengan diabetes, bagaimana mereka berdamai dengan penyakit. Hal ini membuat aku
merasa di usia muda harusnya aku juga memiliki semangat yang lebih banyak dari
mereka. Menjadi penyemangat ketika banyak orang di luar sana ingin menyerah,
menjadi pendoa bagi mereka agar kuat menjalani banyak hal yang harus dilalui.

Komentar
Posting Komentar