BERDAMAI DENGAN KEKURANGAN

Suatu kali aku diam termenung, menekuk kakiku dan kusandarkan kepalaku yang berat. Jika di depan aku terlihat kuat namun sebenarnya jauh dilubuk hatiku yang terdalam aku rapuh. Kerinduan untuk hidup selayaknya orang normal mulai datang lagi, kini rindu itu semakin merekat hingga mampu membuatku stress. Hidup dengan jarum menyayat pikiranku. Kadar gula darah yang buruk sesekali memonopoli hariku. 
Begitulah kira-kira jikalau aku sedang stress dengan rangkaian pola hidupku. Namun ada saja cara Tuhan untuk membuatku memunculkan senyumku kembali dan melupakan sejenak kesedihan yang selalu monoton, setidaknya "sejenak melupakan" meskipun kutahu itu "akan kembali". Ya, Tuhan menghadirkan banyak sekali orang-orang yang menghiburku dikala aku sedang dalam titik lemah. Entah kenapa rasanya sulit sekali berdamai dengan kekuranganku. Terlebih ketika aku lebih dalam belajar mengenai penyakitku dan boommmm, seperti ledakan yang memporak-porandakan pikiranku.  Bagaimana jika gulaku tidak terkontrol? bagaimana aku bisa memanajemen diriku dengan baik? Aku ingin hidup selayaknya orang normal..... dann masih banyak lainnya. 
Intimidasi itu seakan menggoyahkan imanku, dan Tuhan kembali kasih aku penguatan. Jika aku tidak mengetahui maksud dan rencana Tuhan sekarang, bersabarlah. Ini bukan timing yang pas. 
...
Berbulan-bulan lamanya sejak di diagnosa dm tipe 1 sulit bagiku berdamai dengan kekurangan diriku. Namun seiring berjalannya waktu Tuhan mulai bukakan pemikiranku bahwa "AKU HARUS BERDAMAI DENGAN KEKURANGANKU", karena kekurangan tidak menjatuhkan, namun membangun jika aku tau cara mengelola kekurangan itu. Mudah untuk menjadi berdampak lewat kelebihan, namun sulit ketika menjadi berdampak lewat kekurangan kita. Bagi saya untuk berdampak lewat kekurangan yang wajib dilakukan pertama kali adalah berdamai dengan kekurangan dan nikmati proses yang mau Tuhan ijinkan terjadi lewat kekurangan yang ada dalam diri kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sahabat dan perhiasan berharga

USIA BELIA