BERDAMAI DENGAN KEKURANGAN
Suatu kali aku diam termenung, menekuk kakiku dan kusandarkan kepalaku yang berat. Jika di depan aku terlihat kuat namun sebenarnya jauh dilubuk hatiku yang terdalam aku rapuh. Kerinduan untuk hidup selayaknya orang normal mulai datang lagi, kini rindu itu semakin merekat hingga mampu membuatku stress. Hidup dengan jarum menyayat pikiranku. Kadar gula darah yang buruk sesekali memonopoli hariku. Begitulah kira-kira jikalau aku sedang stress dengan rangkaian pola hidupku. Namun ada saja cara Tuhan untuk membuatku memunculkan senyumku kembali dan melupakan sejenak kesedihan yang selalu monoton, setidaknya "sejenak melupakan" meskipun kutahu itu "akan kembali". Ya, Tuhan menghadirkan banyak sekali orang-orang yang menghiburku dikala aku sedang dalam titik lemah. Entah kenapa rasanya sulit sekali berdamai dengan kekuranganku. Terlebih ketika aku lebih dalam belajar mengenai penyakitku dan boommmm, seperti ledakan yang memporak-porandakan pikiranku. Bagaimana jika...