Diabetic Ketoasidosis (Part 2)
Malam itu untuk pertama kalinya aku memakai "insulin",
benda yang kini menjadi sahabatku selamanya. Insulin dengan dosis 15 unit dan
harus disuntik jam 22.00 WIB. Jenis insulin yang gunakan adalah insulin pen
merk Levemir. Harganya tak tanggung-tanggung. Kocek yang kuroggoh untuk 1 pen
sebesar Rp300.000 sudah termasuk beberapa jarum yang mungkin cukup satu minggu
saja. Ditambah dengan biaya dokter kurang lebih sudah setengah juta yang
kuhabiskan disatu hari hanya untuk pengobatan saja. Sehat itu mahal, loh.
Candaku dalam hati. Berusaha menghibur diri karena sejujurnya pikiranku sudah
sangat penat.
...
Kulihat temanku membuka tutup
jarum itu, bersiap-siap melayangkan jarum mungil ke lenganku. Rasa terpuruk
melandaku ku ketika akan ditusukkan insulin, namun disisi lain ketika kulihat
anak kamar memberikan semangat padaku muncul rasa bahagia dan bersyukur. Aku
tak sendirian, bisik relung hati ini. Aku pasrahkan lenganku untuk
ditusukan jarum mungil itu, tak berasa tapi meninggalkan bekas darah. Aku
berharap pengobatan ini akan berakhir dan aku akan menikmati hidup seperti
biasa dengan energi yang baru. Suntikan hari pertama telah kulewati. Lunglai
kutak berdaya, lemas yang kurasa.
...
Malam itu aku bertukar bed sementara dengan pic kamarku karena
kondisiku yang memburuk. Beberapa kali aku ke toilet dan pandanganku mulai
kabur, ku pegang tembok disekitarku dan berharap masih ada sisa energi yang
bisa kugunakan. Tengah malam datang rasa mual yang luar biasa disertai dengan
muntah yang kurasa sudah berkali-kali disatu malam itu, kepalaku terasa berat.
Di dalam toilet ketika aku muntah kesekian kalinya, ku tekuk lututku dan
menangis sejadi-jadinya tanpa bersuara. Aku sudah tidak kuat Tuhan, bisakah
Engkau menghentikan ini semua?, ucapku dalam hati.
Malam
panjang cukup melelahkan, mentari bersinar menyapa. Kubalas dengan senyum palsu
dengan fisik yang tertatih. Kududuk sejenak dan rasanya aku masih
bergumul dengan sisa kekuatan yang ada. Aku bertekad masuk kelas pagi itu
dikarenakan aku tak ingin ketinggalan materi. Uas sudah di depan mata dan aku
harus kuat. Namun tampaknya memaksakan diri bukan jalan yang benar. Seusai kuis
dikelas, tiba-tiba aku mual, pandangan kabur dan kepalaku terasa berat. Semua
mata memandang ke arahku, seakan bertanya apakah aku baik-baik saja, atau
mungkin sebaliknya bertanya penasaran kenapa aku sebenarnya?, sama halnya
dengan dosenku ia bergerak menghampiriku dan menyarankan temanku untuk
membawaku beristirahat di asrama. Dibopongnya aku sampai ke asrama dan temanku
kembali ke kelas. Ia berjanji akan datang seusai kelas untuk menemaniku.
Kamarku tampak sunyi dan aku mulai tertidur, mata ini sangat mengantuk dan
akhirnya aku bisa merasakan tidur lelap setelah semalam terjaga.
"Riana,
bangun yuk.. makan dulu" suara itu, yaa.. itu suara picku yang selalu
setia menemaniku. Ku buka mataku dan aku melihat senyum tulus terukir di
wajahnya, kulihat ia membawakanku bubur dan ia menyuapiku. Hambar, atau lidahku
yang salah pikirku ketika itu. Suapan demi suapan ku coba telan, namun beberapa
menit kemudian aku berlari ke toilet dengan separuh tenaga memuntahkan apa yang
telah ku makan. Kenapa semua makanan ini keluar semua? Lagi-lagi aku menangis
ketika itu, aku lelah, sangat lelah.. Ku pijat-pijat leherku karena aku ingin
muntah, namun sepertinya sudah tidak ada lagi yang dapat kumuntahkan karena
tidak ada asupan yang masuk. Tak lama terdengar suara ketukan pintu "ri,
masih mual? ku ambilkan air hangat ya". Sejenak aku memejamkan mata, terbesit
pemikirian bahwa ditengah kondisiku seperti ini Tuhan gak pernah biarin aku
sendiri, masih banyak orang yang sayang dan peduli padaku. Ditengah kesibukan
mereka, mereka masih tetap meluangkan waktu untuk merawatku.
Seluruh
isi kamar sibuk searching mbah google makanan apa yang baik untuk penderita
diabetes. Sayangnya, hari itu aku lambungku menolak semua makanan. Oat meal,
bubur dan makanan lain yang berasapun semua tak dapat kutoleransi dengan baik.
Semakin lama aku tak kuat menahan beban tubuhku. Perutku terasa sakit. Banyak
sekali ucapan "cepat sembuh" dari orang-orang yang aku sayangi.
Mereka sangat peduli kepadaku.
Satu
hari sebelum uas datang kondisiku semakin memburuk, aku lapar, aku haus. Namun
apapun yang masuk kedalam mulutku ditolak mentah-mentah oleh lambungku. Bahkan
air putih saja aku muntahkan. Sudah tidak ada lagi sumber energi yang bisa
kudapatkan. Pandanganku juga benar-benar kabur, ketika mencoba berjalan benda
sekitar seperti berguncang. Sesak napas juga membuatku semakin tersiksa. Beberapa
kali aku menarik napas dalam namun tetap saja aku merasakan sesak berlebih.
Teman-temanku dikamar sudah bertindak seperti layaknya perawat yang expert.
Mereka memberikanku intervensi meninggikan posisi tidurku kira-kira 45͒. Sesakku berkurang namun masih ada. Berkali-kali aku menarik
napas panjang berharap oksigen yang ku hirup bisa melegakan paru-paru.
Sesak,
mual, muntah, perut sakit, haus, lapar, berkali-kali ke toilet, kulit kering
karena dehidrasi dan badan kurus layaknya zombie. Campur aduk sudah yang
kurasa. Orangtuaku berulang kali menelpon menanyakan kondisiku. Hingga pada
akhirnya aku harus dibawa ke ugd. Aku sudah memasrahkan diri, tapi aku tetap
berpikir keras bagaimana dengan biayaku nanti. Setahuku masuk ugd itu tidaklah
murah dan bpjsku sudah tidak aktif. Sepanjang perjalanan menuju ugd yang
sebenarnya hanya disebelah kampusku itu aku menutupi wajahku, yah aku cukup
malu ketika itu, malu karena calon perawat sepertiku bisa jatuh sakit seperti
ini, namun ku berusaha tetap tersenyum dan kuat didepan anak-anak kamar dan
picku, berharap mereka tidak terlalu khawatir dengan kondisiku.
Tempat
tidur diselimuti kain putih, tirai biru dan dipenuhi orang lalu lalang dengan
kostum berwarna biru. Disinilah aku terbaring. UNIT GAWAT DARURAT. Beberapa
tahun lalu pernah tersirat dibenakku bagaimana rasanya terbaring disini, dan
ajaibnya Tuhan punya cara membuatku mengetahui rasa penasaranku. Sejujurnya
aku menyesal pernah membayangkan itu, teriakku dalam hati dan kutujukan itu
pada Tuhan. Salah seorang perawat menanyakan mengapa aku dibawa kesini, entah
apa yang menjadi dasar pertanyaan itu tapi itu cukup menggelitik. Muncul
keisengan pikiranku mungkin saja aku tampak baik-baik saja dibandingkan
pasien-pasien yang lain. Vital sign, berat badan menunjukkan hal yang normal
sampai pada akhirnya picku menjelaskan aku baru saja didiagnosa diabetes tipe 1
beberapa hari yang lalu. Dan kemudian, satu tusukan lagi melayang di jari
telunjukku. Layar pengukur gula darah menunjukkan angka 550mg/dL. Naik lagi
rupanya.
...
Penanganan sigap dan cepat.
Banyak hal yang baru pertama kali aku alami sepanjang hidupku, pertama kalinya
aku diinfus dan dilakukan pemeriksaan AGD (Analisa Gas Darah), dan ada beberapa
tes darah kujalani. Aku hanya bisa terdiam, memasrahkan tanganku dan menutup
kedua mataku. Sesekali aku bergurau berharap itu mengibas rasa takutku. Tapi
sepertinya itu tak berhasil. Anak kamarku ketika itu memegang erat tanganku
mengisyaratkan "semua akan baik-baik saja". Infus kulewati dengan
baik, sekarang tibalah giliran AGD. "AGD adalah pemeriksaan yang cukup
menyakitkan", ini adalah statement dosenku dikelas dan itu menjadi
terngiang di otakku. Benar saja, tanganku seperti kram ketika jarum berkeliling
di pembuluh darahku, mulutku tertutup tapi wajahku merintih. "Kakak tahu
sakit, maaf yaa.. sedikit lagi kok".. Menghela nafas panjang, nyeri ini
pasti b
Loading
cairan dan pemantauan cairan dengan ketat. Aku merasakan haus yang luar biasa,
namun sayangnya semua rasa air mineral rasanya terlalu manis dan membuatku
ingin muntah kembali.
Terbaring aku sambil bermain hp, aku memberikan kabar
orang terdekatku saja tentang hal ini. Namun ternyata berita sudah tersebar
luas.. dan untuk menjawab pertanyaan aku hanya bisa bercanda bilang "hehe
iya masuk ugd krn kurang kasih sayang"
banyak pertanyaan membanjiri dm
ig maupun whatsapp. Aku tak pandai berkelit, ujungnya beberapa orang kuberikan
informasi jujur atas penyakitku.
Seketika
itu tirai terbuka dan rupanya dokter, ia menanyakan kondisiku. "Puji Tuhan
sudah lumayan dok, hehe sesaknya sudah mulai berkurang, tp rada ga nyaman juga
sama oksigen ini.." tuturku pada dokter RMO itu. "Makan bagaimana?
masih mual muntah?" tanyanya sambil memeriksa perutku. "masih
dok", ucapku datar. Statement mengejutkan dokter tersebut ketika ia bilang
lebih baik pasang selang makan saja ya jika terus ga bisa makan. Hal terberat,
why? karena beberapa bulan lalu aku baru saja praktek untuk memasang NGT/selang
makan itu. Membayangkan selang itu masuk ke dalam hidungku, jikalau disuruh
memilih aku lebih baik ditusuk dibandingkan dipasang NGT. Ditambah lagi aku
dianjurkan pasang kateter. Ku memohon agar tak di pasang kedua hal menakutkan
itu, dan berhasil. Namun konsekuensinya aku harus coba untuk makan dan pipis
menggunakan pispot.
Hasil laboratorium telah keluar,
dokter menjelaskan padaku dan keluargaku saat itu bahwa aku harus dirawat inap
dikarenakan aku mengalami DKA (Diabetes Ketoasidosis). Dimana itu adalah
komplikasi awal yang biasa di alami oleh pasien yang baru terdiagnosis dm tipe
1, terdapat keton dalam urineku sebesar (+) 5, yang seharusnya tidak ada sama
sekali. Keton itu bisa jadi racun yang membahayakan bagiku.
Hasil
AGDku juga menunjukkan aku mengalami asidosis dan itu salah satu faktor aku
mengalami sesak nafas. Dokter mengatakan diabetes bisa juga terjadi pada anak
usia muda dikarenakan faktor genetik.
Ku termenung. Memikirkan
bagaimana kelanjutan hidupku nantinya.. Diabetes-Ketoasidosis? Akankah aku akan
sembuh? Mengapa harus aku? Benarkah insulin itu tak akan pernah lepas dari
hidupku? Masih muda tapi penyakitan? Stigma buruk apa yang akan kudapati?
Banyak pertanyaan timbul, dan tak kutemukan satupun jawaban..
Dadaku
terasa sesak kembali dan air mata mengalir membasahi pipiku, kuhadapkan wajahku
ke arah tembok menatap kosong..

Luar biasa dek. Tetap semangat yah menjalani hari-, harimu. Rancangan Tuhan bukan rancangan kecelakaan. Thanks sdh berbagi cerita inspiratifnya
BalasHapusSemangat kak riii mantan front bed ku❤
BalasHapusLuar biasa kamu bisa lewatin semuanya ri, tetap semangat ya jangan terlalu kecapean, Tuhan yesus akan selalu menjagamu dan menguatkanmu, aku mengasihi mu
BalasHapusTerima kasih sudah berjuang sampai sekarang ini riana 😊 kamu bisa melewatinya karna Tuhan slalu menyertaimu. Amin.
BalasHapusSllu tetap andalkan Tuhan ya sist dalam setiap apapun itu .. gbu
BalasHapusSemangat kakak 💗
BalasHapus