Merangkai Pola Baru
Kebiasaan seseorang tergantung pada konsistensi terhadap perubahan dan kontrol diri sendiri (Duhigg-The Power of Habits). Salah satu pakar kesehatan dr. Baumeister mengatakan "Kontrol diri yang keras merupakan hal yang bisa diperbaiki. Itu bukan sesuatu yang terkunci dan konstan". Pertanyaannya bagaimana jika perubahan tersebut bukanlah perubahan yang kita inginkan namun perubahan yang menutut atau memaksa. Dan jika tidak dilaksanakan akan menjadi ancaman, lantas bagaimanakah aku melewati perubahan yang nantinya akan menjadi kebiasaanku? Jika ditanya demikian ketika perubahan yang tidak meng-enak-kan itu maka aku tidak akan bisa memberikan jawaban. Untuk menerima sebuah kondisi yang merubah hidupku 180͒ tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tingkat adaptasi setiap orang berbeda, dan mungkin dalam hal ini adaptasi yang kumiliki cukup buruk.
Mari kita mulai dengan jadwal sehari-hari yang akan berubah mulai hari setelah aku keluar dari rumah sakit. Jadwal makan pagiku seharusnya jam 06.00-08.00 (suntik novorapid 30 menit sebelum makan), lunch jam 12.00-13.00 suntik 30menit sebelum makan, dan jam 18.00-20.00 juga suntik 30menit sebelum makan. Snack time 09.00 pagi dan 14.00 siang. Seminggu pertama harus rutin cek GDS sebelum makan dan 30 menit sesudah makan. Nilai GDS dicatat di dalam buku rutin yang diberikan oleh dokter. Olahraga minimal 15-30 menit setiap hari atau paling tidak seminggu 2 kali. Untuk suntik malam hari sebelum tidur atau jam 22.00WIB.
Bukan hanya berubah dengan jadwal makan ditambah dengan obat pribadi. Ada lagi? Tentu. Makanan yang harus konsumsi. Tidak boleh mengandung karbohidrat ataupun gula berlebih. Anjuran dari ahli gizi untuk nasi putih sebaiknya diganti jadi nasi merah, jika masih ingin konsumsi nasi putih sebaiknya porsinya dikurangi hanya satu centong nasi saja, buah-buahan yang dikonsumsi juga sebaiknya menghindari pisang dikarenakan kandungan gula yang berlebih, hindari makan goreng-gorengan, dan masih banyak lainnya. Gula yang dikonsumsi juga sebaiknya menggunakan gula tropical/gula jagung.
Banyak yang menjadi pantangan. Dan banyak orang menjadi polisi bagi diriku. Membatasi ini itu, demi kesehatanku.
Dari sesosok wanita pencinta kuliner, kini harus dibatasi dengan banyak hal. Stress, of course. Keluar dari zona nyaman karena kondisi yang tak ku harapkan sebuah tantangan yang besar.
Menjadi berbeda di antara banyak orang itu tidak mudah. Menanggapi berbagai statment terkadang membuatku ciut. "ehh ri, inget ga boleh makan itu; ri, riii... emang kamu boleh ya makan itu?; ehh ri, bukannya kamu ga boleh makan itu ya?; btw, uda suntik belum?; boleh makan ya, tapi ga boleh banyak-banyak, sedikit aja yaa, asal nyicip, oke?; kamu diabetes? ya ampun kasian ya masih muda", dan masih cukup banyak lainnya.
Aku berusaha untuk mengambil sisi positifnya, ketika mereka menegurku disitu mereka memperhatikanku. Ketika aku tidak ditegur lagi itu tandanya mereka tidak memperdulikanku atau mungkin mereka sudah lelah menegurku dikarenakan aku yang keras kepala.

Komentar
Posting Komentar