Diabetes tipe 1 (Part 1)
Ini
kisahku, dimana perubahan besar terjadi dan mengharuskan aku keluar dari
zona nyamanku. Aku merupakan seorang mahasiswa keperawatan, saat ini aku sudah
menginjakkan kakiku di semester empat. Kalau kata orang sih bentar lagi bakal
mencapai puncak terberat yaitu semester lima. Lebih beratnya lagi adalah aku
harus menyelesaikan tiga semester dalam satu tahun. Kebanyakan mahasiswa libur
bisa kurang lebih sebulan tetapi tidak denganku, libur semester hanya 1-2
minggu saja. Tidak apalah, karena pada kenyataannya sekarang aku menikmatinya
meski terkadang tidak luput dari yang namanya mengeluh. Quotes yang selalu kupegang
salah satunya "Hidup itu proses", dan ya, ini adalah proses yang
harus kujalani. Gak boleh berhenti ditengah proses kan, dan ga boleh juga
selalu ikut yang instan-instan, karena segala sesuatu yang instan itu memiliki
dampak yang mungkin saja buruk.
....
Biasanya
mahasiswa di tingkat awal itu kudu wajib hukumnya untuk aktif di organisasi.
Begitu pula diriku, ketika itu ada beberapa acara kampus yang aku ikuti. Aku
jadi flashback, tahun baru 2017 lalu aku bersama keluarga mentoringku
mengadakan acara kumpul bersama, kami saling sharing dan menuliskan wishlist kami
di tahun yang baru. Kebahagiaan terbesarku adalah impianku di wishlist itu
tercapai yaitu aku bisa masuk di salah satu acara kampus di maincamp (istilah
gedung utama dikampusku). Intinya, perasaanku ga bisa dideskripsikan bisa join
di acara dan organisasi itu. Tekadku adalah aku harus memberikan yang terbaik
sebagai tanda ucapan syukurku pada Tuhan.
Sehari,
duahari, seminggu aku sangat exited bisa bertemu dengan teman
baru, mengikuti banyak kegiatan, dan banyak hal lainnya. Akan tetapi beberapa
minggu kemudian tubuhku seperti sudah memberikan kode untuk menyerah dan aku
tetap memberi motivasi diriku untuk bangkit lagi karena acara ini berarti besar
buatku. Perlahan lahan mulai muncul masalah-masalah ditambah tugas dan tanggung
jawab yang mulai terasa membingungkan. Banyak kegiatan yang memerlukan
manajemen waktu yang baik dan aku harus bisa menentukan mana yang menjadi
prioritas.
Tempat
tidurku di asrama seperti terbengkalai, dari pagi hingga malam aku meninggalkan
bed kesayanganku itu dan hilir mudik di area kampus. Tugas-tugas semester empat
saat itu juga memberikanku extra lingkaran hitam di bawah mata. Laptop yang
menjadi sahabat mengetikku, kursi lounge yang menjadi saksi
tugasku. Yah, tak terasa banyaknya tugas dan tuntutan yang kujalani ini membuat
tubuhku meronta, dan aku tidak menyadari tanda-tanda itu.
Siang
itu, seusai kelas aku pulang menaiki lift ke dormitory salah
satu temanku bilang "ri kayanya sekarang kurusan ya hehehe", dengan
nada bercanda ku tanggapi "iya nihh kan diet" sambil tertawa garing.
Padahal pada kenyataannya aku tetap makan seperti biasa, terlintas dipikiranku
mungkin karena aku stress menghadapi semester ini karena sebentar lagi juga
akan diadakan uas. Ah, ya sudahlah bersyukur aku dibilang kurusan, memang ini
toh yang menjadi impian ku sebagai wanita.
Hal
yang aneh semakin menjadi jadi, pernyataan yang sama mulai terlontar dari
teman-teman yang lain. "Ri, kok makin kurus ya?, duh kamu diet ya, pipimu
jadi tirus ya, eh ri, kayanya bagusan badan kaya kemarin, pipi juga chubby,
kalo sekarang kayanya kekurusan deh, riiiii... kok lehermu jadi jenjang gitu,
dan blablablabla...". Kutatap diri di kaca toilet saat itu, what's wrong
with me? hmmmm... setelah kuperhatikan mungkin sekitar 2-3 menit aku merasa
teman-temanku benar juga. Tubuhku sih tak terlalu bermasalah, tapi pipi dan
leher memperlihatkan terjadi penurunan yang cukup drastis pada tubuhku.
Keesokan
harinya, aku praktek di RS dan kemudian dengan iseng aku menimbang berat badanku.
Aku turun 6kg, semula BBku 54kg menjadi 48kg. Cukup drastis. Aku sempat
berpikir keras, se-stress ini kah sampai berat badanku turun drastis. Duh, aku
tak bisa menemukan jawaban, akhirnya aku memutuskan untuk tidak terlalu
memusingkan hal ini.
Waktu
terus berlalu dan muncul beberapa keanehan, aku sering merasa lelah, pusing
tiba-tiba dan yang paling aneh adalah aku sering merasa haus dan frekuensi aku
ke toilet bisa lebih dari 10x dalam sehari, paling sering malam hari untuk
buang air kecil. Air seniku menjadi berbusa. Aku tanyakan pada grup kecilku dan
mereka tidak ada yang tahu. Lagi-lagi pikiran positif tetap menjadi andalanku.
Sepertinya
PIC kamarku (ketua kamar gitu) menghampiriku dan bilang mau menemaniku
kepuskesmas untuk berobat. Hasilnya cukup mengejutkan, dokter bilang bisa jadi
aku mengalami tuberculosis. Aku tidak terima dengan pernyataannya itu. Sudah
jelas seperti yang ku pelajari tidak ada tanda dan gejala yang memperkuat
diagnosis itu, ku hanya mengalami penurunan berat badan saja, tidak ada
penurunan nafsu makan, batuk ataupun keringat di malam hari.
Rekomendasi
dari dokter adalah aku harus cek darah untuk memastikan apa penyakitku. Kalian
tahu apa reaksiku sepulang dari puskes? Aku menangis sejadi-jadinya. Meskipun
aku tau diagnosis itu tidak benar tapi otakku seperti buntu dan tidak bisa
berpikir jernih. Aku menangis sesegukan dibahu teman grup kecilku. Hanya mereka
yang bisa memberikanku support saat itu.
Keesokan
harinya, sepulang kelas pagi aku ditemani PICku untuk mencari second opinion dari
dokter di RS. Memasuki ruang dokter aku berbincang mengenai keluhanku dan aku
dilakukan pemeriksaan fisik. Dengan menghela nafas panjang dokter meluncurkan
pernyataan seperti bom bagiku. Aku didiagnosa diabetes melitus/kencing manis.
Ia memberikanku selembar kertas untuk pengantar cek laboratorium. Secarik
kertas ditanganku itu kusodorkan kepada petugas lab dan perhitungan biaya
sekitar 1juta rupiah. Spontan tanganku memegangi kepala yang semakin terasa
berat, ku tanyakan kepada petugasnya saat itu "boleh saya minta rincian
biayanya kak?", ternyata yang mahal dibagian ini, lalu kuputuskan hanya
pemeriksaan CBC saja saat itu serta gula darah. "Mohon ditunggu ya, 2jam
lagi hasilnya akan keluar". Selama menunggu aku memutuskan untuk
beristirahat sejenak di dorm. Pikiranku terus melayang, membolak-balikkan tubuh
berusaha untuk tidur namun gagal, 2jam berlalu aku kembali ditemani PICku untuk
mengambil hasil. Aku sudah berpikir pasti diagnosis dokter itu benar, dan yap..
540mg/dL gula darahku. Padahal rentan normalnya 200mg/dL. Lemas, tak terasa air
mata jatuh seketika. Ku pamit sebentar ke toilet. Air mataku tumpah. Ku berdiri
menatap wajahku di kaca toilet, memandang betapa menyedihkannya diri ini.
Kubasuh wajahku dan berusaha tegar. Ku ketuk ruang dokter lalu beliau memberiku
saran untuk bertemu dokter spesialis penyakit dalam. Uang di dompetku sudah
menipis, di atm juga. "Cobaan apalagi ini", desah
batinku. Dokter spesialis tidaklah murah, belum lagi obat-obatan. Ku
tanyakan FO untuk biaya dokter spesialis penyakit dalam, dan Puji Tuhan uangku
masih cukup.
Perbincangan
serius antara aku dan dokter. Alhasil aku di rujuk untuk rawat inap. Berat hati
untuk meng-iya-kan, "hari kamis aku sudah mulai uas dok, bisakah aku
menyelesaikan uasku dahulu baru dirawat dok?", tawarku. Cukup memakan
waktu melakukan tawar menawar itu. Disisi lain aku bisa melihat raut wajah
dokter ragu dan khawatir akan kondisiku, namun aku berusaha untuk mengatakan
"aku baik-baik saja dok sampai aku selesai uas nanti". Akhirnya
dokter meresepkan insulin yang harus kupakai setiap hari. Aku ga bisa
deskripsiin gimana rasanya. Yang pasti itu dipakai seumur hidup dan setiap
hari. Itu artinya aku akan bergantung seumur hidup dengan "INSULIN".
Ribuan tusukan jarum di daerah perut, lengan maupun pahaku. Dokter memberiku edukasi bagaimana aku harus menyuntikkan benda itu dalam tubuhku. Aku tak terbayang
betapa menyakitkannya itu. Aku menghela nafas panjang, memastikan apakah aku
baik-baik saja...
.....

Uhhh sayang riana π
BalasHapusCerita selanjutnya aku tunggu ππ
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKamu kuat ❤
BalasHapusππͺ
BalasHapusKk pasti kuatππ
BalasHapusKk kuat bgt, semangat kak, Tuhan selalu sertai, God bless.
BalasHapusSyg... Tuhan tdk mmbrikn cobaan d luar kuatx kita.
BalasHapusSmua ada hikmax.
Love you syg.
trimakasih buat dukungan semuanya π aku percaya apapun yg terjadi dalam hidup kita Tuhan selalu pegang kendali..
BalasHapusditunggu part 2nya yaaππ
Semangat riana. God bless you dear π
BalasHapusSayang kakak π tetap semangat mentor.. God bless you kak π
BalasHapusKakak pasti bisa, jangan pernah berhenti berharap kaπ
BalasHapusMy strong womanπ
BalasHapusCan't wait for part 2
Semangat kak rii, wanita kuatq wkwk. Tetap semangat sanak lpg q
BalasHapusKeep strong yaaak riii π
BalasHapusRiana pasti bisa melalui ini semua karna riana wanita yang kuat πͺπͺπͺ
BalasHapusSemangat sist .. God bless you ❤️
BalasHapusAk yakin kmu wanita kuat n hebat. Love u ri, ganbatee
BalasHapusSemangat kk riana, Tuhab sll beserta kk. Jgn pernah menyerah
BalasHapusFace it! Well whatever happens in your life, will not reduce God's love for u. Cuz He is with u all the time. Do the best as for God and not for humans.
BalasHapusRegards, PCA TT~
Kisahmu saat ini akn menjadi kekuatan untuk ornglain juga. Terimakasih sudah menginspirasi dgn cerita karaktermu yg kuat dan tangguh. Aku yakin kamu bisa jalani hari2 dikedepan nnti
BalasHapusTrus berdoa minta pertolongan Tuhan utk memampukan Riana dlm menjalani hari hari kedepan utk meraih kesuksesan.
BalasHapusSerahkan smua bebanmu pada kuat kuasa tangan Tuhan, dan ttp bersyukur sbb di saat bersyukur mujizat terjadi.
Jesus always be with you bubenn kami❤
BalasHapus