BROKEN HOME - Dituntut Mandiri
Angin berhembus kencang, rintik hujan membuat suasana rumah semakin kaku.
"Untuk beberapa hari ini kamu sama suanta tinggal di rumah i lili dulu ya, mama sama papa mau urus masalah ini. Jaga diri baik-baik ya..", begitulah kira-kira pesan mama sebelum akhirnya aku hanya tinggal berdua dengan koko dan terkadang dibantu tetangga di sebelah rumah ii untuk membeli lauk pauk dengan uang titipan dari mama.
...
Menyembunyikan rasa sakit adalah salah satu keahlianku, namun berusaha untuk tegar secara spontan bukan ranah kefasihanku. Perlu waktu untuk melewati fase denial ke fase acceptance. Dan ada proses yang ku harus lalui, terseret-seret itu pasti, namun aku percaya bahwa aku punya Tuhan yang menopangku. Selama beberapa hari tinggal tanpa orang tua dan hanya dengan koko, rumah begitu sepi. Sepulang sekolah, berganti baju, lalu ku masuk ke ruang yang sekarang menjadi teman berkeluh kesah.Pikiran kosong menjadi temanku diiringi dengan air mata yang mengalir membasahi pipi. Membolak balikkan posisi tubuh, gelisah mengharapkan ada secerca harapan agar semua kembali normal. Tak henti-hentinya aku bilang sama Tuhan biarlah kehendakMu Tuhan yang terjadi, namun Engkau tau harapanku adalah papa mama kembali rujuk..
...
Selama beberapa hari aku bertindak sebagai ibu rumah tangga. Mencuci baju, memasak, membersihkan rumah, dll, semua pekerjaan itu kulakukan sendiri, emmmm... ga semuanya sih kadang dibantu koko juga. Tidak semudah yang ku bayangkan. Baju yang kurendam terlalu lama alhasil menimbulkan aroma yang membuat hidung gatal, memasak nasi yang terlalu banyak sehingga terbuang sia-sia, tragedi strikaan panas yang mendarat ditangan kananku dan menimbulkan bekas luka, dan banyak lainnya. Insiden-insiden ini menjadi pembelajaran bagiku, aku terkadang tertawa dalam hati, ternyata beginilah yang dinamakan berguru dari pengalaman.
Dikala bosan aku dan koko menghabiskan waktu bersama dengan nonton drama korea ataupun anime. Bukan bosan, lebih tepatnya untuk menghibur diri dari masalah yang terjadi di rumah. Siang itu sepulang sekolah aku dan koko sepakat memasak nasi goreng dan bakwan kesukaan kami lalu nonton anime.
"Gua potong bawang sama iris cabe ya, lu siapin nasi sama wajah noh, sama bikin adonan tepungnya", begitulah garis besar pembagian tugas dalam project memasak kali ini..
Dikarenakan kami sering membantu mama memasak jadi bagi kami ini adalah hal yang mudah.. maafkan kalo agak sombong, hehehe.. Jika dapur uda dikuasai kami berdua istilah "kapal pecah" bisa menggambarkan bagaimana kondisi dapur kala itu, kurang lebih 30-45 menit nasi goreng dan bakwan goreng ala kami berdua sudah tersaji di piring. Dan waktunya makan sambil nonton, yeyyy teriak kami berdua.
Tok, tok, tok... tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang di selingi suara wanita memanggil nama kami berdua, yap dan ketika ku buka pintu ternyata mama. Pelukan rindu kulayangkan saat itu juga "mama lama banget pulangnya, gimana ma?", tanyaku penasaran dan berharap bahwa semuanya baik-baik saja. Saat itu mama datang bersama dengan ii dan tampaknya raut wajah mereka berdua tak menandakan "semuanya baik-baik saja". Sore itu mama mengajak kami untuk pulang ke rumah. Ada hal penting yang harus mama bicarakan pada kami, dan mama juga bilang kalau papa akan datang besok. Sekali lagi aku masih menggantungkan harapan "semuanya akan baik-baik saja" ketika mama bilang papa akan datang besok. Malam itu kutekuk lutut di samping tempat tidur memanjatkan doa dengan bahasa sederhanaku. Hanya Dia yang tau bagaimana beratnya kepala dan perasaan campur aduk ini. Dalam doa ku menjerit berharap ada mujizat yang terjadi dalam keluargaku.
....
Keesokan harinya sepertinya pertama kali aku akan melihat pengadilan keluargaku yang hening. Mama duduk di tengah aku dan koko. Rangkulan hangat kurasakan ketika itu. "Anti, anta..." panggil mama dengan nada serius.
"mama sudah memutuskan untuk tetap berpisah dengan papa, mama ga yakin bisa biayain sekolah kalian berdua jadi mama mohon kalian tinggal dengan papa ya, kita masih bisa tetap komunikasi kok, maaf ya kalau mama harus memilih jalan seperti ini.."
Raut wajah koko tiba-tiba berubah "mama egois, ga penah mikirin kami", koko pergi menghempaskan rangkulan mama
Aku yang terdiam sejenak akhirnya angkat bicara "anti mungkin ga pernah jadi mama, tapi anti yakin kalau memang ini yang terbaik buat mama anti terima..."
Setelah mengatakan itu aku memeluk mama dan pamit pergi ke kamar, aku kunci pintu rapat-rapat dan menangis sejadi jadinya.. aku menatap diri dan kulihat diriku tampak bodoh saat itu. Aku bilang aku bisa menerima namun nyatanya aku marah, kecewa, dan khawatir akan jadi apa hidupku kedepannya.
Apa aku akhiri saja hidupku ya Tuhan? Atau haruskah aku merusak diriku sendiri agar mereka tahu bahwa aku sangat depresi menghadapi kenyataan ini. Usiaku masih sangat muda untuk harus hidup di tengah keluarga yang hancur, papa dan mama yang pisah, dan nantinya akan ada apa lagi????
Aku ga sanggup menatap hidupku ke depan, keluarga kami baik-baik saja tapi kenapa tiba-tiba muncul perkara yang sebesar ini?
Aku ingin hidup di tengah keluarga yang normal layaknya teman-temanku, apakah bisa Tuhan?
Banyak hal yang tidak bisa aku terima, aku marah sama Tuhan ketika itu tapi nyatanya keluargaku tak kembali seperti semula.
Banyak penguatan dari anggota keluarga lain dan mereka bilang "Percayalah Tuhan ga akan kasih pencobaan melebihi kekuatanmu dan Tuhan pasti punya rencana di balik ini semua", entah bagaimana kata-kata itu menenangkan sedikit keresahan dan kemarahan ini. Ya, mungkin benar bahwa akan ada sesuatu yang mau Tuhan nyatakan dalam hidupku. Mungkin gak sekarang, tapi suatu saat nanti.
*Percayalah sekalipun kamu menghadapi masa kelam dalam hidupmu Tuhan gak pernah tinggalkan kita berjalan sendiri, Tuhan kirimkan orang-orang yang menyadarkan kita untuk tetap berada dalam jalan yang benar. Kemarahan, penyesalan ga akan menyelesaikan apapun hanya menambah kepahitan dalam hubungan kita dengan Tuhan.
....
Keesokan harinya sepertinya pertama kali aku akan melihat pengadilan keluargaku yang hening. Mama duduk di tengah aku dan koko. Rangkulan hangat kurasakan ketika itu. "Anti, anta..." panggil mama dengan nada serius.
"mama sudah memutuskan untuk tetap berpisah dengan papa, mama ga yakin bisa biayain sekolah kalian berdua jadi mama mohon kalian tinggal dengan papa ya, kita masih bisa tetap komunikasi kok, maaf ya kalau mama harus memilih jalan seperti ini.."
Raut wajah koko tiba-tiba berubah "mama egois, ga penah mikirin kami", koko pergi menghempaskan rangkulan mama
Aku yang terdiam sejenak akhirnya angkat bicara "anti mungkin ga pernah jadi mama, tapi anti yakin kalau memang ini yang terbaik buat mama anti terima..."
Setelah mengatakan itu aku memeluk mama dan pamit pergi ke kamar, aku kunci pintu rapat-rapat dan menangis sejadi jadinya.. aku menatap diri dan kulihat diriku tampak bodoh saat itu. Aku bilang aku bisa menerima namun nyatanya aku marah, kecewa, dan khawatir akan jadi apa hidupku kedepannya.
Apa aku akhiri saja hidupku ya Tuhan? Atau haruskah aku merusak diriku sendiri agar mereka tahu bahwa aku sangat depresi menghadapi kenyataan ini. Usiaku masih sangat muda untuk harus hidup di tengah keluarga yang hancur, papa dan mama yang pisah, dan nantinya akan ada apa lagi????
Aku ga sanggup menatap hidupku ke depan, keluarga kami baik-baik saja tapi kenapa tiba-tiba muncul perkara yang sebesar ini?
Aku ingin hidup di tengah keluarga yang normal layaknya teman-temanku, apakah bisa Tuhan?
Banyak hal yang tidak bisa aku terima, aku marah sama Tuhan ketika itu tapi nyatanya keluargaku tak kembali seperti semula.
Banyak penguatan dari anggota keluarga lain dan mereka bilang "Percayalah Tuhan ga akan kasih pencobaan melebihi kekuatanmu dan Tuhan pasti punya rencana di balik ini semua", entah bagaimana kata-kata itu menenangkan sedikit keresahan dan kemarahan ini. Ya, mungkin benar bahwa akan ada sesuatu yang mau Tuhan nyatakan dalam hidupku. Mungkin gak sekarang, tapi suatu saat nanti.
*Percayalah sekalipun kamu menghadapi masa kelam dalam hidupmu Tuhan gak pernah tinggalkan kita berjalan sendiri, Tuhan kirimkan orang-orang yang menyadarkan kita untuk tetap berada dalam jalan yang benar. Kemarahan, penyesalan ga akan menyelesaikan apapun hanya menambah kepahitan dalam hubungan kita dengan Tuhan.
Komentar
Posting Komentar